
Setiap hari kita selalu merasakan pertemuan dan perpisahan. Bertemu dengan keluarga, tetangga, rekan kerja, maupun dengan orang-orang yang belum kita kenal sebelumnya. Pertemuan rutin ini, diakhiri dengan perpisahan rutin pula. Dalam keluarga misalnya, dengan masing-masing aktifitas yang berbeda antar anggota keluarga, ada saatnya mereka pergi keluar rumah dengan tempat tujuan berbeda yang mengharuskan mereka harus berpisah. Setelah itu mereka bertemu dalam kumpulan keluarga kembali.
Begitulah perpisahan antar anggota keluarga selalu kita rasakan setiap kala. Demikian pula halnya dengan rekan kerja, setiap hari kita merasakan pertemuan dan perpisahan itu, pagi dan senja.
Berpisah memang merupakan satu yang pasti dialami oleh setiap manusia yang pernah bertemu. Bagai dua kutub berlawanan, pertemuan mengharuskan adanya perpisahan maupun sebailknya.
Pada dasarnya ketika seseorang saling bertemu baik secara individu maupun kolektif, maka ketika itu mereka mesti menyadari sejak awal bahwa mereka akan berpisah entah kapan, baik untuk sementara maupun selamanya sepapahit apapun dirasa.
Berpisah bisa secara rutin, untuk jangka waktu dekat, bisa juga untuk jangka waktu yang cukup lama bahkan bisa jadi perpisahan selamanya. Illustrasi di atas adalah contoh jenis perpisahan yang pertama yakni perpisahan rutin atau berkala. Perpisahan dalam waktu yang cukup lama misalnya perpisahan seseorang dengan rekan studi setelah kelulusannya, perpisahan antar rekan kerja setelah keluarnya, dan lain sebagainya.
Perpisahan untuk jangka waktu yang lama misalnya ketika seseorang maninggalkan kita berpindah menuju alam barunya (alam qubur –red). Perpisahan untuk jangka waktu selamanya adalah perpisahan hakiki antara kebenaran dan kebathilan, antara keimanan dan kekufuran, antara tauhid dan syirik. Secara hakiki, keduanya tidak mungkin bertemu untuk selamanya. Sebab, keduanya adalah perpisahan antara kebahagiaan dan kesedihan.
Keadaan ini menuntut pelakunya berpisah untuk selamanya. Di akhirat kelak, mereka juga tidak pernah bertemu lagi kecuali dialog-dialog singkat kesenangan dan penyesalan antara penghuni surga dan neraka. Alloh SWT menggambarkan dialog singkat itu, di antaranya:
Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): 'Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikankepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab: 'Betul'. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.'
Penghuni neraka menyeru penghuni surga:
Ketika Kita Harus Berpisah
Diposting oleh
IpunkFamily
|
'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizekikan Allah kepadamu'. Mereka (penghuni surga) menjawab: 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka'. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
Salam





